PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHASA INGGRIS; MENINGKATKAN KEMAMPUAN "READING ALOUD" MELALUI PENGAJARAN RHYMING 'STOP AT THE VOWEL SOUND"

Abstract : This study aimed to analyzeteacher's performance in teaching reading aloud and students'competence in reading aloud; especially in pronouncing short vowel.This study was conducted in two cycles, each cycle consists of threeactivity; drilling, memory recognition , and mix up. These activitywere conducted in order to secure data of students' progress in readingaloud, while checklist of micro teaching skills were used to maintainteacher's performance. The result of the study indicated that teacher'sperformance in giving an explanation had significantly a good progress,but it still need an improvement both in asking question and givingappreciation. Students' competence, in other hand, was significantlyexcellent in drilling (100%), but they still hesitated in memoryrecognition (35%) and mix up20%).

Kurikulum Bahasa Inggris untuk SMP sesungguhnya meliputi keempatketerampilan berbahasa; mendengar, membaca, berbicara dan menulis,namun penekanan pada keterampilan membaca siswa nampak sangat dominan.Hal ini terlihat dari soal-soal evaluasi yang selalu didominasi olehketerampilan membaca. Meskipun demikian keterampilan dasar dalammembaca yakni reading aloud yang termasuk dalam salah-satu keterampilanmembaca yang harus diajarkan di SMP ternyata masih sangat rendah,sehingga banyak siswa SMP yang tidak mampu membaca teks-teks bahasaInggris dengan pengucapan dan intonasi yang benar, bahkan sering kitajumpai siswa melakukan kesalahan pengucapan sebuah kata bahasa Inggris.Kesulitan tersebut terutama disebabkan oleh ketidak mampuan siswamengidentifikasi dan mengeneralisasi bunyi-bunyi vowel, dipthong danconsonant blending dalam bahasa Inggris.

Pengajaran bahasa Inggris, secara literasi menurut Wells(1987) terbagi kedalam empat tingkatan; performatif, functional,informational, dan epistemis. Pada tingkat performatif, orang mampumembaca dan menulis, dan berbicara dengan symbol-simbol yang digunakan; pada tingkat functional diharapkan dapat menggunakan bahasa untukmemenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca manual ataupetunjuk; pada tingkat informational diharapkan dapat mengaksespengetahuan dengan bahasanya; sedang pada tingkat epistemic diharapkandapat mentranformasi pengetahuan dalam bahasa sasaran.

Sejalan dengan hal diatas, Kurikulum 2004 yang lebih dikenaldengan Kurikulum Berbasis Kompetensi menargetkan bahwa lulusan SMPharus mencapai tingkat literasi performatif dan functional. ( kurikulum2004, hal 3). Konsekuensi logis dari hal tersebut seharusnya pada tahapawal pembelajaran membaca bahasa Inggris memberikan penekanan padakemampuan untuk membedakan berbagai bunyi yang ada atau yang lebihlazim dikenal dengan pengetahuan phonic. Hal ini sejalan dengan apayang dikatakan Tampa 2005 dalam articlenya "A critical Supplement toEvery Reading Program":

"While most of the common words in our language are basicallywith their letter/sound patterns. As you can imagine, failing to learnany of these basic sight words would seriously lower a child's readingtest score since they are essential for achieving comprehension of atest question or paragraph". (Richard, P: 1, 2005)

Lebih jauh lagi, John D. Mc Neil (1980) memperinci bahwa basic sightwords dalam bahsa Inggris meliputi vowel panjang dan pendek-short andlong Vowel, diphthong dan sound blending. Jika siswa bermasalah dalammengidentifikasi berbagai ucapan vowel dan sound blending dalam bahasaInggris, maka mereka juga akan bermasalah pada tahapan reading yanglebih kompleks. Karena itu kemampuan mengucapkan short and long Vowel,diphthong dan sound blending merupakan dasar bagi keterampilan yangmembaca lebih lanjut-reading comprehension.

Untuk mengatasi hal tersebut, Rhyming termasuk salah-satu polapengajaran yang disarankan dalam "Document English Syllabus andSupport" untuk digunakan terutama untuk mengembangkan kemampuanphonology siswa sebagaimana yang dikatakan Bryant P and Bradley L(1985).

" Phonological processing involves using phonological awarnessknowledge of letter/sound correspondence and blending, and it can bedeveloped through such a thing as rhyme .... "

(Bryant P and Bradley L, 1985)

Sehubungan dengan hal tersebut Richard (2005) dalam program Beginning Reading strategy menggunakan dua kegiatan rhyming yakni :

1. Stop at the Vowel sound; yaitu pola latihan pengenalan ucapan membaca dengan penekanan pada bunyi huruf hidup.

2. Recognition memory; yaitu pola latihan penggunaan kata dalamdengan menjeneralisasikan aturan yang ada dan menggunakan kata tersebutdalam konteks yang menyenangkan.

METODE

Penelitian tindakan kelas Dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang yang terdiri dari 15 siswa pria dan 25 siswa wanita. Prosedur penelitiantindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus, tiap siklus dilaksanakanprosedur sebagai berikut; 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3)observasi dan evaluasi, dan 4) refleksi. Selanjutnya dalam tiap siklusdiberikan tiga kegiatan yakni :

a. Classroom Drill

Pada bagian ini guru melatih pola-pola bunyi-bunyi shortvowels,"a,e,i,o,u" melalui tehnik Stop at the Vowel Sound-Siswadiperlihatkan daftar kata yang menggunakan bunyi vowel, dan di suruhmembaca kata tersebut sebatas huruf vowelnya saja.

b. Memory Recognation

Pada tahap ini siswa di berikan latihan pengenalan kata-katayang memiliki bunyi short vowels "a,e,i,o,u" melalui konteks gambaryang memiliki ilustrasi tertulis. Hal ini dilakukan agar siswa dapatmenjeneralisasi pola-pola bunyi yang telah dilatih sebelumnya.

c. Mix up

Latihan-latihan membaca sebuah teks yang memuat bunyi-bunyishorts vowel "a,e,i,o,u". Latihan ini digunakan untuk mengukurkemampuan siswa/progress siswa dalam menerapkan pola-pola yang telahdiberik

Sedangkan Untuk mengukur kinerja dari penggunaan tehnikrhyming yang diaplikasikan oleh guru digunakan lembar observasi yang diadopsi dari "Stop At The Vowel Sound technique" ( Richard 2005).

No

ACTIVITY HAL YANG DIAMATI

INSTRUCTION QUESTION APPRECIATION

1 DRILL

2 MEM. REC

3 MIX UP

PEMBAHASAN

A. KINERJA GURU

1. Instruksi

Kegiatan guru dalam mendrill pola-pola bunyi short vowels"a,e,i,o,u" di kelas VII A terlihat secara siginifikan mengalamipeningkatan disetiap siklus. Hal ini dapat dilihat dari jenis instruksiyang diberikan. Kecenderungan guru menggunakan kata "repeat after me"pada siklus pertama saat melakukan classroom drill dapat diminimalisirmelalui refleksi pada siklus berikutnya (siklus 2). Hal ini dapatdilihat dari data bahwa pada siklus berikutnya perintah drill lebihbervariatif yakni dengan munculnya kata-kata "Ok together, say itfaster, read together" dan sebagainya. Penggunaan kata yang semakinbervariasi ini membuat interaksi belajar antar guru dan siswa semakinhidup, data menunjukkan bahwa lebih dari 90% siswa menuruti perintahyang diberikan. Hal ini dimungkinkan karena rasa malu dan kurangpercaya diri ( relactant ) pada siswa yang pada awal pelajaran sangatdominan telah dapat diminimalisasikan..

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan, Abimanyu, 1985bahwa pengulangan-pengulangan kata yang terlalu sering dalam prosesbelajar menyebabkan menurunnya perhatian dan partisifpasi siswa.

2. Memory Recognation

Pada kegiatan memory recogantion yang bertujuan untukmemberikan pola-pola bunyi short vowel "a'e,i,o,u" . Data menunjukkanbahwa guru selalu dapat memberikan contoh pola-pola bunyi short vowels"a,e,i,o,u" dan sekaligus pemakaian pola-pola tersebut dalam kata-katayang applicable. Dan pada awal siklus berikutnya berdasarkan refleksikegiatan guru berhasil memberikan bentuk-bentuk kekecualian daripola-pola yang diajarkan pada siklus sebelumnya. Sebagai contoh Padakegiatan pre-aktivity siklus pertama guru memberikan pola-pola bunyihuruf "a" adalah "ae" yakni pada kata bat, cat, dad, fat danseterusnya. Di awal siklus berikutnya dalam kegiatan pre-activity gurumemberikan penjelasan bahwa ada huruf "a" yang dibunyikan "o" yaknipada kata-kata yang memiliki akhiran double ll. Contohnya : mall, hall,call. Dan kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan pada kegiatanberikutnya yakni memori recognation dan mix up. Dalam pemberia bacaanpada kedua kegiatan tersebut nampak bahwa adanya campuran kedua bunyitersebut. Ini mengidentifikasikan bahwa keterampilan guru dalammengajar khususnya dalam komponen "menjelaskan" sudah baik. Pola-polapenerapan penjelasan yang diterapkan oleh guru sejalan dengan poladeduktif dan induktif sebagaimana yang dijelaskanoleh Kosasi, 1985.bahwa umumnya ada dua pola yang efektivitas tinggi dalam menghubungkancontoh dan dalil yaitu :

a. pola induktif; yang memberikan contoh-contoh terlebihdahulu dan akhirnya dari contoh-contoh tersebut ditarik kesimpulan umumatau suatu dalil (rumus)

b. pola deduktif; yang menggunakan contoh-contoh untukmemperjelas atau memperinci lebih dalam suatu hukum atau generalisasiyang telah diberikan.

(Kosasi, 1985)

3. Apresiasi

Selanjutnya data penelitian ini juga menunjukkan bahwapemberian penguatan (apresiasi) guru pada kegiatan mengajar secara umumcukup baik. Penggunaan kata-kata pujian seperti, good, nice, sound goodyang digunakan oleh guru dalam usahanya memberikan penguatan cukupbervariasi. Namun demikian terlihat juga dengan jelas bahwa penyebaranpemberian penguatan (apresiasi) ini belum menyentuh secara individu,karena tidak terlihat dalam kedua siklus yang telah dijalankan gurutidak pernah menyebutkan nama-nama siswa. Karena sesungguhnya pemberianpenguatan (apresiasi) kepada siswa dalam proses belajar bertujuan untuk:

a. meningkatkan perhatian siswa

b. membangkitkan dan memelihara motivasi siswa

c. memudahkan siswa belajar

d. mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa yang kurang positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif.

(Pah, 1985)Untuk dapat mencapai tujuan tersebut pemberian penguatan dapat dilakukan dengan beberapa cara :

1. Penguatan kepada pribadi tertentu

Penguatan ini harus jelas ditujukan kepada siswa tertentudengan menyebut namanya, sambil memandang kepada siswa yang dituju.Penguatan yang tidak jelas kepada siapa ditujukan akan kurang efektif.

2. Penguatan Kepada Kelompok

Meskipun pemberian penguatan seyogyanya diberikan kepada siswatertentu dengan menyebutkan namanya. Namun demikian kadang-kadangpenguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa. Penguatansemacam ini biasanya diberikan apabila satu tugas telah diselesaikandengan baik oleh kelompok tersebut.

3. Pemberian Penguatan Denagn Segera

Ini dimaksudkan bila dalam kegiatan belajar muncul tingkah laku ataurespon siswa yang sesuai dengan yang diharapkan. Hendaknya penguatansegera diberikan. Penguatan yang ditunda pemberiannya cenderung akanmengurangi arti pemberian penguatan tersebut.

4. Penguatan Mesti Bervariasi

Bila kata pujian yang serupa selalu diguanakan sebagaipenguatan, maka nilainya akan berkurang. Umpamanya setiap kali guruakan memberikan penguatan kata yang digunakan hanya "good" , maka lamakelamaan kata "good" ini tidak lagi bermakna bagi siswa dan tidak akanmampu meningkatkan penampilannya.

B. KINERJA SISWA

1. DRILLING

"Drilling" dalam kegiatan pembelajaran bahasa umumnya digunakanuntuk melatih pola-pola pengucapan tertentu yang selanjutnya dapatdigeneralisasikan menjadi suatu pola umum, (John D. and Mc Neil. 1981). Data penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalammengucapkan bunyi-bunyi short vowel "a,e,i,o,u" sangat signifikan, takseorangpun tercatat yang gagal dalam pengucapan bunyi-bunyi tersebut.Hasil yang sangat signifikan ini dimungkinkan karena kegiatan"drilling" yang dilakukan pada penelitian ini adalah kegiatan "classroom drill". Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh darikegaiatan "classroom drill" yakni siswa bebas dari tekanan mental;takut salah, malu dan sebagainya ,Hal ini karena semua temannyamelakukan hal yang sama sebagaimana yang ia lakukan maka ketakutanterhadapa melakukan kesalahan dapat dikurangi, demikian pula dengankecenderungan siswa yang malu menjadi terelimanasi dengan sendirinya.kedua, dapat memberikan rasa percaya diri yang lebih kepada siswa.Karenanya saat terjadi classroom drill semua siswa mengeluarkan suara.Possitifnya adalah kelas menjadi lebih hidup dan rasa percaya dirisiswa dalam belajar bertambah. Dan yang terakhir adalah dapatmenciptakan kenyamanan bagi siswa dalam belajar. Siswa merasa lebihnyaman karena mereka merasa bahwa apapun aktivitas yang mereka kerjakantidak ada orang yang memperhatikannya.

Namun, demikian bukan berarti bahwa kegaitan classroom drilltidak memiliki kelemahan. Dalam bukunya Mengajar Dengan Sukses"Rooijakers, 1990 , melihat adanya kecenderungan yang diistilahkandengan konvergen; bangga karena yang diajarkan diterima dengan baik dandapat diungkapkan kembali secara tepat, sama seperti yang diajarkan.Jalan pikiran konvergen ini bisa menjadi kontraproduktif dalammengajar. Demikian juga dengan kegiatan classrooom drill, sesungguhnyakegiatan ini bisa jadi meaningless karena hanya berisikan pengulanganpengulangan pola tertentu. Selain dari hal tersebut, kegiatanclassrooom drill memiliki tingkat kesulitan dalam menentukan kemanjuanyang diperoleh siswa, dikarenakan semua siswa mengeluarkan suarasebagaimana yang dirillkan oleh guru, akan sangat sulit mengukurkeakuratan/ketepatan suara yang dikeluarkan bagi masing-masing siswa.Karenanya meskipun dalam kegiatan ini siswa mampu menirukan drill yangdiberikan belum dapat dikatakan secara signifikan mengalami kemajuan.

2. MEMORY RECOGNATION

A. Short Vowel "a"

Hasil generalisasi pola pembacaan bunyi short vowel "a"menunjukkan bahwa siswa secara signifikan telah dapatmengeneralisasikan pola-pola bunyi short vowel "a" yang mereka dapatkanpada latihan sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari latihan yangdiberikan melalui kegiatan memory recognation dengan cara memberikansebuah bacaan "My Cat" yang berisikan 18 kata yang menggunakan bunyishort vowel "a". Data menunjukkan bahwa dari 40 orang siswa hanya 3orang siswa yang masih membuat kekeliruan dalam pengucapan bunyi shortvowel "a" ini berarti bahwa 92% siswa mengalami kemajuan dalampengucapan bunyi short vowel "a". Keberhasilan ini disebabkan beberapafaktor ; pertama, teks yang digunakan untuk mengeneralisasi. Dalam teks"My Cat" memang telah terlihat bahwa teks tersebut berusaha mengetahuiapakah siswa mampu mengeneralisasi bunyi short vowel "a" dalam bahasaInggris, dengan cara mencantumkan dua perbedaan bunyi short Vowel "a"yakni bunyi (ǽ;) - cat, sat, etc dan bunyi (ǿ )-ball, , namun jeniskata-kata yang digunakan pada teks ini cukup familiar bagi siswa.

Ada kemungkinan bahwa siswa memang telah terbiasa mengucapkan kata-katatersebut sehingga ketika kegiatan memory recognation ini dilaksanakanmereka tidak menemukan kesulitan yang berarti. Kedua, faktor asalsiswa, siswa yang mayoritas berasal dari daerah Bengkulu asl secara kebahasaan memang telah memiliki bunyi(ǽ;)Sangat berbedadengan ketiga siswa yang mengalami kesulitan dalam mengeneralisasibunyi short vowel "a". Ternyata ketiga siswa ini berasal dari daerahyang sama yakni daerah yang tidak memiliki bunyi (ǽ;). Ketika merekamengucapkan kata "dapat" dalam bahasa daerahnya menjadi "dapet". Dalambukunya " An Introduction to Sociolinguistic" Marjohan (1988)menjelaskan beberapa hal yang menyebabkan timbulnya variasi dalambahasa :

1. Regional variety or dialect, i.e, a variety which is caused by geographical factor.

2. Social variety or sociolect, i.e, a variety which is causedby socioecomic factor, the socioeconomic group which uses the variety.

3. Functional variety or functilect, i.e., a variety which iscaused by situational factors such as the participant (the speaker, thelistener), setting (at home, in the market, etc), topics, media(orally, in writing, by telephone etc )

4. Chronological variety or chronolect, i.e,, a variety which is spoken in a particular time (period)

(Marjohan, 1988: 6)

B. Short Vowel "e"

Peningkatan kemampuan siswa dalam membaca bersuara (readingaloud) short vowel "e" secara signifikan terbukti ketika siswa dapatmengeneralisasi bunyi-bunyi short vowel "e" yang diberikan dalamlatihan memory recognation.. Ketika diberikan sebuah wacana yangberjudul "When I Turn Ten" yang berisikan 6 kata-kata yang menggunakanbunyi short vowel "e" , dari 40 siswa yang mengikuti pelajaran inihanya 2 orang siswa yang harus mengalami pengulangan pembacaan 2 kalikarena mengalami kekeliruan di 2 kata yang memiliki bunyi short vowel"e" . Hasil ini menunjukkan bahwa 95% siswa dapat membaca dengan baiksemua bunyi short vowel "e".

Bunyi short vowel "e" memiliki kesamaan dalam bahasa Indonesia danbahasa daerah di Bengkulu, jadi dalam hal ini tantangan kesulitan untukmelafalkan bunyi tersebut kurang. Kegagalan ke 2 siswa kelihatan lebihcenderung karena kurangnya perhatian siswa saat belajar. Terlihat saatdiminta mengulangi untuk kedua kali mereka mampu melakukannya.

C. Short Vowel "i"

Data yang diberikan melalui wacana "The light is Dim" menunjukkan bahwapada tahap ini siswa mampu mengeneralisasikan pola-pola bunyi shortvowel "i" . Ke 40 siswa yang diberikan wacana tersebut mapu membacanyadengan baik, khususnya pada kata-kata short Vowel "i" yang memilkibunyi "i". Hal ini dimungkinkan karena pengaruh bahasa Indonesia yangmemiliki bunyi yang sama dengan short vowel "a" yang berbunyi "i".Namun ketika diberikan wacana yang memuat short vowel "i" yang berbunyi"ai" , dari 40 siswa terdapat 9 orang melakukan hesitating dalammembaca short vowel "i" dibeberapa kata. Dalam hal ini 77 % siswa mampumembaca bersuara dengan baik. Pengaruh perbedaan notasi dan ucapannampak dengan jelas merupakan kendala bagi siswa. Notasi "i" denganbunyi "i" ada dalam bahasa Indonesia sehingga wajar siswa tidakmengalami kesulitan, namun notasi "i" yang berbuni "ai" tidak dimilikidalam bahasa Indonesia maka kesulitan dialami siswa dalam pengucapanini. Marjohan mengutip Platt et al memberikan penjelasan bahwa

..... the speaker's presupposition when making an utterance are ofgreat importance for complete understanding of semantic conveyed. Thesepresuppositions are based partially on the speaker's beliefs, attitude,and evaluation of his role in society and the role of his addressee.

(Platt et al, 1975 :1-2)

Kesulitan siswa dalam hal ini membedakan penggunaan pengucapanshort vowel "i" yang berbunyi "i" dan berbunyi "ai" karena telahmemiliki anggapan (presupposition) sebelumnya bahwa notasi huruf "i"dalam bahasa ibu mereka selalu berbunyi "i".

D. Short Vowel "o"

Wacana " Fox and Ox" digunakan dalam penelitian ini sebagaialat untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengeneralisasikan shortvowel "o". Dari ke 40 siswa semuanya dapat membaca bersuara dengansangat baik wacana ini. Hal ini berarti 100% siswa mampu membacanyaring (reading aloud) wacana tersebut. Ada beberapa kemungkinan yangmempengaruhi keberhasilan yang sangat signifikan ini. Pertama adalahwacana itu sendiri. Wacana Fox and Ox adalah wacana yang cukup pendekdan mungkin sudah familiar bagi siswa. Kemungkinan kedua adalah letakshort vowel "o" dalam wacana ini selalu berakhiran dengan bunyi shortvowel "o" . dan yang terakhir adalah bahwa bunyi short vowel " o"memiliki kesamaan bunyi dalam bahasa ibu siswa.

E. Short Vowel "u"

Kemampuan siswa dalam mengeneralisasikan short vowel "u" dalampenelitian ini diukur melalui sebuah wacana yang berjudul "Bug give aHug". Dari 10 kata yang menggunakan short vowel "u" dalam wacana ini.40 orang siswa 25 dapat membacanya dengan suara yang tepat. Sedangkan15 orang memilki kendala. Dalam hal ini pengaruh notasi dan pengucapanyang sering berbeda dalam bahasa Inggris sangat mempengaruhi siswa.Dalam bahasa Indonesia notasi huruf " u" tetap dibunyikan "u".Sedangkan dalam kasus ini siswa harus membunyikannya dengan bunyi "Λ".Meskipun bahasa Indonesia memiliki bunyi ini, namun dalam membaca siswasangat dipengaruhi oleh apa yang dihadapinya sehingga notasi yangmemiliki bunyi yang berbeda dengan bahasa ibu mereka akan sangatmenghambat dalam melakukan kegiatan membaca nyaring (reading aloud).Karenanya wajar jika hampir sebagian (35%) siswa mengalami kesulitandalam mengeneralisasi short vowel "u" ini.

3. MIX UP

Untuk mengetahui apakah kemampuan membaca bersuara (reading aloud)siswatelah meningkat, maka dalam penelitian ini digunakan latihan campurankesemua bunyi short vowels ke dalam sebuah wacana (mix up). Kepadasiswa diberikan empat buah wacana; "I Get Wet, I had a Hot Dog, KipLike to Dip dan Bug gives a hug" masing-masing siswa diberikankesempatan untuk membacanya dengan suara nyaring (Reading aloud). Datamenunjukkan bahwa 40 siswa yang membaca (reading aloud) wacana tersebuttidak mengalami kesulitan yang berarti. hanya 8 orang siswa yangmelakukan hesitating, dalam membaca nyaring (reading aloud) yakni padawacana Kip Like to Dip.

Beberapa alasan yang dapat dikemukankan mengapa terjadi (keragu-raguan)hesitating dalam membaca nyaring (reading aloud) pada wacana tersebut;pertama wacana tersebut cukup panjang sehingga siswa kemungkinanmengalami kejenuhan. Kemungkinan berikut adalah tingkat kesulitan untukmemahami kontek/ arti kata tersebut dalam kalimat. Hal ini membuatkeragu-raguan siswa dalam mengekpresikan intonasi saat membaca nyaring(reading aloud). Sementara 32 orang lainnya (80%) telah menunjukkanperkembangan kemampuan yang signifikan dalam membaca semua jenis shortvowels "a,e,i,o,u" dalam bahasa Inggris.

KESIMPULAN

Tehnik pengajaran Rhyming-Stop at the Vowel Sound yang menerapkanlangkah-langkah drilling, memory recognition, dan Mix Up terbuktisecara signifikan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membacabersuara (reading aloud)

SARAN

a. Mengingat basic sight dalam kemampuan membaca nyaring (readingaloud) juga meliputi long vowels, diphthong, consonant blending (McNeil , 1980) maka perlu ada tindak lanjut dalam penelitian ini kepadaunsure-unsur basic sigh lainnya. Sehingga kemampuan reading aloud siswabenar-benar meningkat.

b. Penerapan dan pengajaran raeding aloud melalui Rhyminghendaknya memberikan penekanan yang lebih pada penggunaan kata-katayang tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Indonesia baik notasi maupunbunyi.

REFERENCES

1. Abimanyu, Soli, 1985. Keterampilan Bertanya Dasar. Dirjen PendidikanTinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.Jakarta.

2. Bryant, P and Bradley, L 1985. English Syllabus and Support Document, New South Wales. Board of Studies.

3. Hopkins, David, 1993. A Teacher's Guide to Classroom Research. Open University press. Philadelphia.

4. John D. Mc Neil. 1981. Basic Sight Words, www.onestopenglish.com

5. Jones, Daniel, 1979. English Pronouncing Dictionary, London, Melbourne and Toronto. Dent and Sons Ltd.

6. Pusat Pengembangan Kurikulum, 2006. Kurikulum Bahasa Inggris 2004.Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

7. Kats, M and Ratz, N, 2005. A Proggressive Phonics Book. www. Progressive phonics.com.

8. Richard. 2005. Stop At The Vowel Sound. www. Progressive phonics.com